Sabtu, 04 Januari 2014

Analisis Pembelajaran Matematika dengan Teknik Problem Posing

Analisis Pembelajaran Matematika dengan Teknik Problem Posing

A. Pendahuluan
Problem Posing adalah pembelajaran yang menekankan pada pengajuan soal oleh siswa. Oleh karena itu, Problem Posing dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengembangkan berpikir matematis atau pola pikir matematis. Dalam artikel ini penulis akan mengulas tentang sebuah video pembelajaran matematika dengan teknik problem posing berkelompok. Pembelajaran dengan problem posing ini menekankan pada pembentukan atau perumusan soal oleh siswa baik secara individu, maupun secara berkelompok. Setiap selesai pemberian materi guru memberikan contoh tentang cara pembuatan soal dan memberikan informasi tentang materi pembelajaran dan bagaimana menerapkannya dalam problem posing secara berkelompok.



B. Deskripsi Video
Kegiatan Pendahuluan
Kegaiatan pendahuluan diawali dengan review Prasyarat. Guru meminta siswa untuk menyebutkan operasi aljabar,
serta contoh pada setiap operasi aljabar tersebut. Semua siswa merespon dengan mengangkat tangan. Salah seorang siswa menjawab dengan baik pertanyaan tersebut. Setelah mereview prasyarat (operasi aljabar), guru menyajikan suatu soal cerita yang menyangkut kehidupan sehari-hari. 
Kembali guru menanyakan jawabnnya kepada para siswa, siswa pun merespon dengan mengangkat tangan dan memberikan jawabannya. Setelah menyelesaikan soal yang disajikan guru, guru memberi informasi mengenai tujuan pembelajaran, yaitu “siswa dapat menyelesaikan model matematika yang diberikan dengan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel.
Kegiatan Inti
Kegiatan inti dimulai dengan guru yang membagi siswanya kedalam 7 kelompok. Setelah siswa terbagi dalam 7 kelompok, guru memberikan handout yang berisi permasalan mengenai kwitansi. Tahap ini merupakan penyajian situasi, selain diberikan handout, siswa juga ditugaskan untuk membuat satu buah soal yang dianggap sulit untuk setiap kelompok mengenai Sistem Persamaan Linear Dua Variabel.
Tahap selanjutnya adalah tahap menulis soal,   pada tahap ini siswa menyelesaikan permasalahan dan juga membuat permasalahan. Guru berkeliling untuk memberikan bantuan.
Tahap selanjutnya adalah penyajian soal, menjawab soal dan juga mendiskusikan jawaban soal pertama yang diberikan guru. Hasil kerja siswa ditulis di karton, kemudian disajikan di depan (di tempel di papan tulis). Satu orang siswa dari perwakilan kelompoknya maju untuk menjelaskan hasil diskusi kecil yang dilakukan kelompoknya. Dalam tahap ini, jawaban dari siswa kembali dididskusikan dengan dipandu oleh guru.  Tahap berikutnya menyelesaikan persoalan yang dibuat dari hasil diskusi kelompok kecil. Beberapa siswa menyelesaikan persoalan tersebut dengan beberapa cara. Guru memandu siswa dalam menjawab soal. Setelah beberapa siswa maju untuk menjawab soal yang sama dengan cara yang berbeda dan menjelaskan hasil pekerjaannya, guru membandingkan jawaban siswa yang menyelesaikan SPLDV dengan cara eliminasi dan substitusi.
Diakhir kegiatan inti, guru memberikan penguatan dengan memberikan soal yang dikerjakan siswa secara individu.
Kegiatan Penutup
Kegiatan penutup  ini terdiri dari dua, yaitu kesimpulan dan pemberian tugas.Pada bagian kesimpulan, guru membantu siswa menyimpulkan apa yang telah dipelajari :

  1. ·         Ada dua variabel yang digunakan,
  2. ·         Untuk menyelesaikannya dibutuhkan minimal dua persamaan,
  3. ·        Ada empat metode dalam menyelesaikan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel.
Setelah memberikan kesimpulan, pertemuan diakhiri dengan guru yang memberikan tugas rumah yang ada di Buku Paket siswa.
C. Analisis
Analisi ditinjau dari langkah-langkah problem posing secara berkelompok.( Ibrahim, 2000: 10 dalam Abin)
Fase
Tingkah laku guru
Analisis
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
Pada fase pertama yang ada di akhir kegiatan pendahuluan, guru meyampaikan dengan jelas tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa, ini dapat terlihat dari slide show tujuan pembelajaran yang ditampilkan oleh guru. Namun, guru masih belum melakukan pemberian motivasi terhadap siswa.
Fase -2
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan   bacaan
Penyajian informasi oleh guru, dirasa cukup minim sekali, guru tidak melakukan demonstrasi. Guru hanya memberikan handout yang nantinya akan menjadi tugas siswa pada hari itu.
Fase-3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara evisien
Setelah penyampaina tujuan belajar, masuk ke kegiatan inti, guru membagi siswanya kedalam 7 kelompok belajar. Walau dalam video tidak terlihat guru menjelaskan bagaimana cara kelompok belajar terbentuk, namun kelompok sudah dapat   terbentuk secara evisien dan tertib.
Fase – 4
Membimbing kelompok, belajar mengajar
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mengerjakan tugas
Setelah kelompok belajar selesai terbentuk, guru membimbing siswa dalam kegiatan belajar. Ini dapat terlihat ketika siswa menyelesaikan soal, guru berkeliling melihat hasil kerja siswa da memberikan bantuan bila diperlukan. Selain itu, guru juga membimbing dalam proses mendiskusikan hasil jawaban siswa.
Fase -5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempersentasikan hasil pekerjaannya
Fase kelima ini masih terdapat dalam kegiatan inti. Pada fase tersebut, saat murid telah selesai menjelaskan hasil pekerjaa kelompok atau individu. Guru   mengevaluasi bersama murid-muridnya. Ini terlihat ketika guru menanyakan kembali kepada muridnya “apakah ada masukan?” atau “apakah ada yang jawabannya berbeda?”.   Pada akhir diskusi, gurupun memberikan hasil atau kesimpulan  dari jawaban siswa.
Fase-6
Memberi penghargaan
Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik hasil belajar individu atau kelompok.
Cara guru memberi penghargaan cukup baik walau dirasa kurag. Dalam video pembelajarn, guru memberikan applause pada anak yang aktif, bertanya, dan menjawab. Penghargaan ini sebenarnya bisa saja diberikan lebih seperti memberikan pujian bagus, soal yang baik dan sebagainya.  

Analisis ditinjau dari materi, menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan sistem persamaan linear dua variabel dan penafsirannya merupakan tujuan dari subbab ketiga materi Aljabar pada tingkat SMP. Jika sesuai dengan tahapan materi, siswa sudah mengetahui pengertian SPLDV, dan operasi bentuk aljabar. Maka pada tahap ini, materi prasyarat haruslah dikuasai oleh para siswa. Dalam hal ini, review prasyarat sudah baik dilakukan oleh guru, namun dalam metode me-review materinya dirasa kurang efektif. Ini dikarenakan guru hanya dapat melihat kemampuan satu atau beberapa orang murid saja, guru tidak dapat melihat apakah semua siswa sudah menguasai materi prasyarat atau belum.
Dalam kegiatan inti, didalam video cukup sulit melihat pemberian materi yang diberikan guru, bantuan yang diberika guru pun hanya tersirat dari video, pemberian materi atau bantuan dilakukan guru hanya saat bekeliling.
Handout yang berisi satu soal cerita berkenaan dengan kwitansi merupakan LKS yang baik dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Pembuatan dan penulisan soal SPLDV yang dilakukan oleh siswa dan dirasa sulit oleh siswa sesuai dengan teknik posing.
Karena dalam pertemuan ini banyak menggunakan materi-materi yang sebelumnya telah dipelajari, maka tidak terlalu banyak materi baru yang disampaikan guru. Walaupun begitu, seharusnya ada pula materi yang disampaikan guru, seperti empat cara menyelesaikan SPLDV.

D. Kesimpulan
Pembelajaran yang dilakukan dalam video ini susuai dengan langkah-langkah teknik problem posing. Pada prinsipnya, model pembelajaran problem posing adalah suatu model pembelajaran yang mewajibkan para siswa untuk mengajukan soal sendiri melalui belajar soal (berlatih soal) secara mandiri.
Langkah-langkah dalam Teknik Problem Posing yang digunakan adalah sebagai berikut:

  1.   Guru menjelaskan materi pelajaran kepada para siswa. Penggunaan alat peraga untuk memperjelas konsep sangat disarankan.
  2.   Guru memberikan latihan soal secukupnya.
  3. . Siswa diminta mengajukan 1 atau 2 buah soal yang menantang, dan siswa yang bersangkutan harus mampu menyelesaikannya. Tugas ini dapat pula dilakukan secara kelompok.
  4.   Pada pertemuan berikutnya, secara acak, guru menyuruh siswa untuk menyajikan soal temuannya di depan kelas. Dalam hal ini, guru dapat menentukan siswa secara selektif berdasarkan bobot soal yang diajukan oleh siswa.
  5.   Guru memberikan tugas rumah secara individual.
a.      Kelebihan

  1.     Kegiatan pembelajaran tidak terpusat pada guru, tetapi dituntut keaktifan siswa.
  2.    Minat siswa dalam pembelajaran matematika lebih besar dan siswa lebih mudah memahami soal karena dibuat sendiri.
  3.     Semua siswa terpacu untuk terlibat secara aktif dalam membuat soal.
  4.    Dengan membuat soal dapat menimbulkan dampak terhadap kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah.
  5.   Dapat membantu siswa untuk melihat permasalahan yang ada dan yang baru diterima sehingga diharapkan mendapatkan pemahaman yang mendalam dan lebih baik, merangsang siswa untuk memunculkan ide yang kreatif dari yang diperolehnya dan memperluan bahasan/ pengetahuan, siswa dapat memahami soal sebagai latihan untuk memecahkan masalah.
b.      Kekurangan

  •     Kurangnya persiapan guru dalam menyampaikan materi baru.
  •    Waktu yang digunakan lebih banyak untuk membuat soal dan penyelesaiannya sehingga materi yang disampaikan lebih sedikit.
  •     Guru dirasa kurang inovatif dalam memberikan tugas, dan pemberian pengahargaan kepada siswa yang aktif.

 Saran
Pembelajaran dengan teknik problem posing akan sangat baik jika diterapkan saat evaluasi siswa. Guru harus dengan cermat dalam membuat pertanyaan inovatif untuk memancing kreatifitas siswa. Guru juga harus mampu menstimulus siswa agar dapat berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan motivasi dan penghargaan kepada setiap siswanya.


Daftar Pustaka
      Abdussakir. ( 2009). Pembelajaran Matematika Dengan Problem Posing. [Online]. Tersedia    : http://abdussakir.wordpress.com/2009/02/13/pembelajaran-matematika-dengan-      problem-posing/. (21 February 2011).
     Abin. (2010). Meningkatkan Prestasi Belajar matematika Siswa Melalui Problem Posing Secara Berkelompok Pada Pokok Bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) di Kelas VIII SMPN 2 Kendari. [Online]. Tersedia : http://pendidikan-matematika.blogspot.com/2009/03/proposal-problem-posing.html.

       Sumber Video  : https://www.youtube.com/watch?v=snq9Exy79wU



0 comments:

Posting Komentar

 

Dera Annisa Copyright © 2009 Cookiez is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template